Ada seseorang yang mengartikan readiness sebagai
kesiapan atau kesediaan seseorang untuk berbuat sesuatu. Sesuai dengan kenyataan, bahwa
masing-masing individu mempunyai perbedaan individual, maka masing-masing individu
mempunyai sejarah atau latar belakang perkembangan yang berbeda-beda. Hal ini
menyebabkan adanya pola pembentukan readiness yang berbeda-beda pula di dalam
diri masing-masing individu.
Readiness dalam belajar melibatkan beberapa faktor yang bersama-sama
membentuk readiness,yaitu:
1) Perlengkapan dan pertumbuhan fisiologis
1) Perlengkapan dan pertumbuhan fisiologis
2) Motivasi
Readiness
seseorang senantiasa mengalami perubahan
setiap harinya akibat dari pertumbuhan dan perkembangan fisiologis individu dan
desakan lingkungan seseorang itu sendiri.
Adapun prinsip-prinsip bagi perkembangan
readiness adalah sebagi berikut:
1) Semua aspek pertumbuhan berinteraksi dan bersama membentuk readiness.
2) Pengalaman seseorang ikut mempengaruhi pertumbuhan fisiologis individu.
3) Pengalaman mempunyai efek kumulatif dalam perkembangan fungsi-fungsi kepribadian individu, baik yang jasmaniah maupun yang rohaniah.
4) Apabila readiness untuk melaksanakan kegiatan tertentu terbentuk pada diri seseorang, maka saat-saat tertentu dalam kehidupan seseorang merupakan masa formatif bagi perkembangan pribadinya
1) Semua aspek pertumbuhan berinteraksi dan bersama membentuk readiness.
2) Pengalaman seseorang ikut mempengaruhi pertumbuhan fisiologis individu.
3) Pengalaman mempunyai efek kumulatif dalam perkembangan fungsi-fungsi kepribadian individu, baik yang jasmaniah maupun yang rohaniah.
4) Apabila readiness untuk melaksanakan kegiatan tertentu terbentuk pada diri seseorang, maka saat-saat tertentu dalam kehidupan seseorang merupakan masa formatif bagi perkembangan pribadinya
Faktor-faktor lain pembentuk Readiness
Kemampuan belajar siswa sangat
menentukan keberhasilannya dalam proses belajar. Dalam, proses belajar
tersebut, banyak faktor yang dapat mempengaruhi, selain dari tingkat kematangan
seseorang dan lingkungan, tetapi ada
pula faktor lain yang dapat menunjang atau menentukan pembentukan Raediness.
a)
Pengalaman
(eksperince)
Pengalaman adalah
kejadian yang pernah dialami (dijalani, dirasai, ditanggung dsb) baik yang
sudah lama atau baru saja terjadi.
Sebelum seseorang dapat
mengerjakan suatu tugas yang kompleks,ia harus dahulu mempunyai kecakapan
dasar,misalnya : bila seorang anak belum mempunyai readiness untuk membaca,maka
ia tentu belum dapat membaca sesuatu.
Jika seorang murid
belum memiliki pengalaman,maka sukar menelaah materi yang disampaikan oleh
gurunya. Dengan memiliki pengetahuan yang banyak,seorang murid juga perlu
memiliki banyak pengalaman seperti ilmu terapan dan membaca buku.
b)
Kesesuaian bahan
dengan metode pengajaran
Kalau kita bandingkan cara dan bahan
pengajaran dengan kemampuan seorang anak sejak lahir, maka dengan mudah kita
dapat memilih metode apa sih yang digunakan agar siswa sesuai mendapatkan apa yang diinginkan. Dalam
hal ini,kita harus melihat sejauh mana kesiapan seorang siswa dalam menerima
pembelajaran. Dengan begitu seorang pengejar juga akan lebih mudah menentukan
cara apa/metode apa yang harus digunakan,dan melalui bahan yang sesuai untuk di
ajarkan.
Untuk
pengajaran yang bersifat skill (kecakapan) harus dihubungkan dengan sesuatu
objek yang mempunyai arti (meaningfull),misalnya kecakapan harus yang
berhubungan dengan sesuatu mata pelajaran.
c)
Sikap emosional
dan penyesuaian diri
Sikap emosianal adalah suatu kemampuan yang dapat
mengerti emosi diri sendiri dan orang lain, serta mengetahui bagaimana emosi
diri sendiri terekspresikan untuk meningkatkan maksimal etis sebagai kekuatan
pribadi.
Sebagian murid sulit
untuk melakukan hal ini. Sikap emosional seorang murid dalam belajar sangat
mempengaruhi kesiapan belajarnya (readiness for learning). Menurut
penelitian,sperlima dari murid-murid yang terbelakang membaca,disebabkan adanya
ketegangan emosionalnya. Ketegangan-ketegangan emosi (emotional tension) ini
kerap kali merupakan sebab dan akibat dari kegagalan belajar anak.
Penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri
sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati,
pransangka, depresi, kemarahan, dan lain-lain emosi negatif sebagai respon
pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis
Dengan memaknai penyesuaian
diri sebagai usaha konformitas, menyiratkan bahwa di sana individu
seakan-akan mendapattekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri
dari penyimpangan perilaku, baik secara
moral, sosial, maupun emosional.
Sudut pandang berikutnya adalah bahwa penyesuaian diri dimaknai sebagai
usaha penguasaan
(mastery), yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respons dalam
cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan, dan frustrasi tidak terjadi.
Beberapa kejadian yang mengurangi kepercayaan terhadap diri pribadi anak
(self confidence) yaitu adanya sisnisme terutama di hadapan,orang banyak. Juga
kompetisi yang terlalu erat antara teman-teman kelompoknya menimbulkan ketegangan emosional dan
mengembangkan kepercayaan terhadap diri anak tersebut.
d) Kematangan
Kematangan adalah kemampuan seseorang
untuk berbuat sesuatu dengan cara-cara tertentu. Kematngan disebabkan karena
perubahan “genes” yang menentukan perkembangan struktur fisiologi dalam system syaraf,
otak dan indera.
Pengaruh kondisi jasmaniah terhadap pola tingkah laku atau
pengakuan sosial sangat tergantung pada:
1) Pengakuan individu yang bersangkutan
terhadap diri sendiri
2) Pengakuan dari orang lain atau
klompoknya. Masing-masing individu mempunyai sikap tersendiri terhadap keadaan
fisiknya.
Perubahan jasmani merupakan
bantuan “motor learning”agar pertumbuhan itu mencapai kematangan.
Kematangan ataupun kondisi fisik baru akan memperoleh kematangan sosial,
individu yang bersangkutan mengusahakan “social learning” (belajar
berinteraksi dengan orang lain atau kelompok serta menyesuaikan diri dengan nilai-nilai
seerta minat-minat kelompok.
e) Lingkungan
Anak mengalami pertumbuhan fisik
mrupaka penyumbang terpenting bagi rediness, akan tetapi kita tidak
boleh melupakan, bahwa tidak tumbuh dalam kevakuman. Perkembangan mereka
tergantung pada penaruh lingkungan dan kultur disamping akibat tumbuhnya pada
pola jasmaniah.
Dalam perkembangan kehidupan
induvidu, lingkungan yang dihadapi atau direaksi semakin luas. Meluasnya
lingkungan dapat melalui beberapa cara, antara lain:
1)
Perluasan paling nyata adalah dalam
arah setimulasi fisik anak.
2) Manusia yang mengalami perkembangan
kapasitas intelektual dan disamping itu pemikirannya meningkat, maka dalam
hidupnya banyak terjadi perubahan lingkungan.
3) Akibat dari keadaan No. 2) diatas,
terjadilah perubahan lingkungan didalam kemampuan individu membuat keputusan.
Daftar Pustaka
Kesiapanbelajar.
2013. “faktor-faktor yang menentukan readiness” dalam
Soemanto,Wasty.1983. “Psikologi Pendidikan”.Malang : Rineka
Cipta