Kamis, 16 Januari 2014

Readiness dalam belajar


Ada seseorang yang mengartikan readiness sebagai kesiapan atau kesediaan seseorang untuk berbuat sesuatu. Sesuai dengan kenyataan, bahwa masing-masing individu mempunyai perbedaan individual, maka masing-masing individu mempunyai sejarah atau latar belakang perkembangan yang berbeda-beda. Hal ini menyebabkan adanya pola pembentukan readiness yang berbeda-beda pula di dalam diri masing-masing individu.
       Readiness dalam belajar melibatkan beberapa faktor yang bersama-sama membentuk readiness,yaitu:
1) Perlengkapan dan pertumbuhan fisiologis
2) Motivasi
       Readiness seseorang  senantiasa mengalami perubahan setiap harinya akibat dari pertumbuhan dan perkembangan fisiologis individu dan desakan lingkungan seseorang itu sendiri.
Adapun prinsip-prinsip bagi perkembangan readiness adalah sebagi berikut:
1) Semua aspek pertumbuhan berinteraksi dan bersama membentuk readiness.
2) Pengalaman seseorang ikut mempengaruhi pertumbuhan fisiologis individu.
3) Pengalaman mempunyai efek kumulatif dalam perkembangan fungsi-fungsi kepribadian individu, baik yang jasmaniah maupun yang rohaniah.
4) Apabila readiness untuk melaksanakan kegiatan tertentu terbentuk pada diri seseorang, maka saat-saat tertentu dalam kehidupan seseorang merupakan masa formatif bagi perkembangan pribadinya

Faktor-faktor lain pembentuk Readiness
Kemampuan belajar siswa sangat menentukan keberhasilannya dalam proses belajar. Dalam, proses belajar tersebut, banyak faktor yang dapat mempengaruhi, selain dari tingkat kematangan seseorang  dan lingkungan, tetapi ada pula faktor lain yang dapat menunjang atau menentukan pembentukan Raediness.
a)                   Pengalaman (eksperince)
Pengalaman adalah kejadian yang pernah dialami (dijalani, dirasai, ditanggung dsb) baik yang sudah lama atau baru saja terjadi.
Sebelum seseorang dapat mengerjakan suatu tugas yang kompleks,ia harus dahulu mempunyai kecakapan dasar,misalnya : bila seorang anak belum mempunyai readiness untuk membaca,maka ia tentu belum dapat membaca sesuatu.
Jika seorang murid belum memiliki pengalaman,maka sukar menelaah materi yang disampaikan oleh gurunya. Dengan memiliki pengetahuan yang banyak,seorang murid juga perlu memiliki banyak pengalaman seperti ilmu terapan dan membaca buku.

b)    Kesesuaian bahan dengan metode pengajaran
     Kalau kita bandingkan cara dan bahan pengajaran dengan kemampuan seorang anak sejak lahir, maka dengan mudah kita dapat memilih metode apa sih yang digunakan agar siswa  sesuai mendapatkan apa yang diinginkan. Dalam hal ini,kita harus melihat sejauh mana kesiapan seorang siswa dalam menerima pembelajaran. Dengan begitu seorang pengejar juga akan lebih mudah menentukan cara apa/metode apa yang harus digunakan,dan melalui bahan yang sesuai untuk di ajarkan.
     Untuk pengajaran yang bersifat skill (kecakapan) harus dihubungkan dengan sesuatu objek yang mempunyai arti (meaningfull),misalnya kecakapan harus yang berhubungan dengan sesuatu mata pelajaran.
c)    Sikap emosional dan penyesuaian diri
Sikap emosianal adalah suatu kemampuan yang dapat mengerti emosi diri sendiri dan orang lain, serta mengetahui bagaimana emosi diri sendiri terekspresikan untuk meningkatkan maksimal etis sebagai kekuatan pribadi.
Sebagian murid sulit untuk melakukan hal ini. Sikap emosional seorang murid dalam belajar sangat mempengaruhi kesiapan belajarnya (readiness for learning). Menurut penelitian,sperlima dari murid-murid yang terbelakang membaca,disebabkan adanya ketegangan emosionalnya. Ketegangan-ketegangan emosi (emotional tension) ini kerap kali merupakan sebab dan akibat dari kegagalan belajar anak.
Penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, pransangka, depresi, kemarahan, dan lain-lain emosi negatif sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis
Dengan memaknai penyesuaian diri sebagai usaha konformitas, menyiratkan bahwa di sana individu seakan-akan mendapattekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baik  secara moral, sosial, maupun emosional.
Sudut pandang berikutnya adalah bahwa penyesuaian diri dimaknai sebagai usaha penguasaan (mastery), yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan, dan frustrasi tidak  terjadi.
Beberapa kejadian yang mengurangi kepercayaan terhadap diri pribadi anak (self confidence) yaitu adanya sisnisme terutama di hadapan,orang banyak. Juga kompetisi yang terlalu erat antara teman-teman kelompoknya  menimbulkan ketegangan emosional dan mengembangkan kepercayaan terhadap diri anak tersebut. 

d)     Kematangan
Kematangan adalah kemampuan seseorang untuk berbuat sesuatu dengan cara-cara tertentu. Kematngan disebabkan karena perubahan “genes” yang menentukan perkembangan struktur fisiologi dalam system syaraf, otak dan indera.
Pengaruh kondisi jasmaniah terhadap pola tingkah laku atau pengakuan sosial sangat tergantung pada:
1)   Pengakuan individu yang bersangkutan terhadap diri sendiri
2)   Pengakuan dari orang lain atau klompoknya. Masing-masing individu mempunyai sikap tersendiri terhadap keadaan fisiknya.
      Perubahan jasmani merupakan bantuan “motor learning”agar pertumbuhan itu mencapai kematangan. Kematangan ataupun kondisi fisik baru akan memperoleh kematangan sosial, individu yang bersangkutan mengusahakan “social learning” (belajar berinteraksi dengan orang lain atau kelompok serta menyesuaikan diri dengan nilai-nilai seerta minat-minat kelompok.

e)      Lingkungan
Anak mengalami pertumbuhan fisik mrupaka penyumbang terpenting bagi rediness, akan tetapi kita tidak boleh melupakan, bahwa tidak tumbuh dalam kevakuman. Perkembangan mereka tergantung pada penaruh lingkungan dan kultur disamping akibat tumbuhnya pada pola jasmaniah.
      Dalam perkembangan kehidupan induvidu, lingkungan yang dihadapi atau direaksi semakin luas. Meluasnya lingkungan dapat melalui beberapa cara, antara lain:
1)    Perluasan paling nyata adalah dalam arah setimulasi fisik anak.
2)      Manusia yang mengalami perkembangan kapasitas intelektual dan disamping itu pemikirannya meningkat, maka dalam hidupnya banyak terjadi perubahan lingkungan.
3)       Akibat dari keadaan No. 2) diatas, terjadilah perubahan lingkungan didalam kemampuan individu membuat keputusan.


Daftar Pustaka

Kesiapanbelajar. 2013. “faktor-faktor yang menentukan readiness” dalam
Soemanto,Wasty.1983. “Psikologi Pendidikan”.Malang : Rineka Cipta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar